UA-64251474-1

Kamis, 01 Oktober 2015

Ketika kamu sudah dilarang bingung

Kemarin saya membahas tentang persimpangan, persimpangan keputusan antara benar, dianggap benar, dan memang benar. Nah, sekarang kamu berada di posisi tidak terpojokkan, tapi kamu memojokkan diri. Ketika kamu sudah dilarang bingung. KETIKA KAMU SUDAH DILARANG BINGUNG. *repeated*

Kalau begitu kan jadinya harus pura-pura tegar. Belum lagi kalau kita harus membuat orang menjadi tegar. Haha, saya menertawakan entah apa yang bisa ditertawakan di otak saya. Kamu benar-benar munafik, dengan sikap yang mengajak, menyemangati, mendengarkan, menasehati sedangkan dirimu sendiri butuh dinasehati, butuh didengarkan, butuh pengertian.

Kalau dulu kamu dengan lebay, alay menistakan diri di media sosial, dan sekarang seakan-akan ada undang-undang yang melarangnya, itu suatu pemaksaan yang baik, mendukung keinginanmu sendiri. Kembali pada kalimat-kalimat nista yang kamu rancang untuk sedikit menyamarkan maksudmu. Menasehati diri sendiri lewat lakon yang kamu buat sendiri.

Tapi ketika lakonmu tidak bisa memberimu ketenangan yang diharapkan, menciptakan situasi yang membuatmu menjadi super introvert padahal kamu bukan introvert. Menyedihkan memang, tapi kalau aku kebingungan, aku harus pergi ke mana, Kakak? Aku memang bukan introvert yang terlalu banyak memendam perasaan.

#random

Minggu, 27 September 2015

Ketika Kau Bertemu Simpangan

Pernah terjadi, dimana aku berhenti di sebuah persimpangan antara jalan yang kuanggap benar dan yang dianggap orang benar. Pernah juga berhenti di jalan yang menurut tuhan lebih benar. Lantas ketika aku tersesat, ada yang bilang, "Kamu tersesat di jalan yang benar." Tidak sampai sekarang, aku berpikir, bagaimana aku bisa tersesat kalau itu jalan yang benar? Sudah jelaslah saja, katakan aku melewati jalan yang benar atau tersesat?

Perlukah aku tanyakan pada Satpam komplek yang ramah tapi hanya paham dua rumah dari posnya? Tinimbang aku mencari sendiri, setidaknya pendapat satpam itu memberiku pencerahan. Setidaknya dua rumah dari pos bukanlah rumah yang kucari. Setidaknya aku hanya perlu mengecek sisanya (Oh my god).

Akan aku jelaskan letak perbatasan di antara dua hal yang berbeda yang berjarak bagai lautan dan sungai. Juga perbatasan antara air dan minyak. Atau perbatasan apasaja yang kamu mau aku jelaskan. Cuma satu lho, coba jelaskan, jalan ini jalan yang benar atau bukan?

#Random

Rabu, 16 September 2015

Ketika

dok. pribadi
Bagaimana kalau aku tersakiti ketika kau pergi?
Bagaimana jika aku kesepian ketika kau pergi?
Bagaimana jika aku bahkan ketakutan ketika kau pergi?
Haruskah aku bertanya ini padamu?

Tak pernah ada kesendiriam yang membuatku begitu kesepian
Tenanglah, aku hanya bergurau.
Sedikit bergurau agar kau tahu,
aku pandai menyembunyikan maksudku.

Meski aku agak terpuruk, kesepian di atas keramaian,
kau tau aku pandai menyembunyikan maksudku.
Jadi tenang saja, aku hanya perlu melakukannya sekali lagi.
Sampai nanti ketika aku dihadapkan pada ketidaksanggupan,
aku akan dengan tulus menangis di depanmu.

#Random

Senin, 31 Agustus 2015

Muse

#TumbangHabangoi's river: 12 Augts evening. Photographed by Fitri 
Muse,
Aku melihatmu bukan sebagai sesuatu yang terjemahkan.
Aku tak akan menjadikannya kata-kata,
sebab dirimu tak terejawantahkan.

Gelunggung, ungkapan diterkam senja...
Walau sering kupakai jua, tak usang pikirnya sirna.

Itulah, Muse...
Kau kuhadirkan sebagai sesuatu,
yang tak tergambarkan.
Sebab, muasalmu adalah benakku,
yang penuh cinta kepadamu.


Kamis, 30 Juli 2015

Lineart: Happy Birthday Mbak Win... ^^

Mbak Win.... ^^
Happy birthday... :)
Hehe, kapan yah, kita kumpul lagi, ketemu lagi, nyanyi lagu orang pinggiran bareng lagi, Boti pake motor Pak Kades lagi... :D
Kita mah udah pada lulus ya, kalo Eka buru-buru wisuda juga, kalian harus doain aku cepet wisuda pokoknya ya... hehe :D
Mbak Win, Happy Birthday ya, sukses terus buat karir mbak selanjutnya... Cepet ketemu jodoh ya, Mbak, terus punya dedek yang ngegemesin. hihihi >.<

*Kalo gambarnya nggak mirip, maap ya mbak... hehe*


Senin, 27 Juli 2015

Hantu (?)

Image source google
Hari ini mati lampu. Perutku lapar, dan tidak punya air. Ditambah lagi dengan ponsel lowbat. Aku tidak kesal. Aku memang berencana pergi setelah tidur dari jam 6 sampai jam 10 pagi.

Lantas di jalan, aku justru melihatmu, berjalan sambil tertawa. Aku menjadi bodoh seketika. Aku membeku seketika. Aku menjadi makhluk paling tidak rasional saat itu juga.

Beli nasi sayur dan telor ceplok dengan harga 10ribu rupiah, dan aku tidak protes bahkan kaget pun tidak. Itu tidak rasional saat yang lainnya hanya seharga tujuh ribu. Keluar warung dengan memakai sandal pemilik warung, itu juga tidak rasional. Aku benar-benar menjadi bodoh dan tidak masuk akal.

Aku gemetar sampai jauh setelah melihatmu. Saat bertemu teman, dia justru bilang, "Kau habis melihat hantu?"

#Random

Raihan 3 Tahun: Main Sulap!

Ini adikku kecilku yang narsis abis. Kupikir kalau besar nanti, dia bisa jadi model atau tukang acting (kalau dia ganteng) Hahaha

Ini tingkahnya beberapa hari mendekati hari raya kemarin.

Ini daunnya ada dua ya, kakak...

Line Art: Lagi begadang

 Yosh! Ini hasil setelah lamaaaaaa sekali nggak pegang adobe family (PS, AI, ataupun ID). Sekarang udah jauh-jauh dari mereka. Nah, tapi kali ini karena saya nggak tau mau ngapain lagi buat melewati malam, (cieallllaaaah), inilah hasilnya.
Maksa. Matanya dibuat agak gede tapi gagal. Hahahaha


Selanjutnya ini Adikku... ;)
Ceritanya si Adik lagi niup apa gitu di fotonya. Haha *maaf ya, lagi pengen banyak ketawa :D

Enth apa deh, saya ini kalau edit foto sendiri mau jadi apa aja, hasilnya jelek. Haahaaa.

Yasudahlah, ini hasil malam tadi.
Thank you for visiting this page ;)





Oh, Jadi Ambivert?

Selamat pagi... ^_^
Saya nggak bisa tidur sampe pagi, setelah main-main ke photoshop ampe bosen, ke youtube ampe bingung apa lagi yang mau diplay, mau ngepost di sini tapi nggak ada bahan, sampai akhirnya nemu draft ini. Hmmm...

(Warning: Self centered)

Di postingan yang udah-udah, saya pernah bilang kalo mending saya ini nggak usah digolongkan introvert atau ekstrovert, tapi karena mereka terus membicarakannya, dan kebetulan nemu tentang ambivert (plis, saya nggak cari-cari ya), jadi kesimpulannya, saya ini ambivert.

Begini guys, jadi kalau introvert itu orang yang pemalu banget, pendiem, dsb yang identik dengan alim, enak gitu yah diliat, nggak begajulan. Hahahah. Sedangkan ekstrovert adalah yang sebaliknya, yang sok asik sendiri, hyperaktif, berasa di tempat bermain terus kali ya... *individual opinion yah*. Nah, kalo ambivert ini gabungan keduanya.

Jadi kalau yang saya rangkum dari artikel yang kebetulan lewat di timeline Fb (sumber Hipwee ya, kalo nggak salah /hihi/), begini, tipe ambivert ini beneran nggak jelas, kadang bisa asik banget, dan kadang bisa tiba-tiba badmood abis. Mereka (saya termasuk) pada umumnya punya banyak teman, tapi bukan teman dekat. Yah, sekedar temen nongkrong aja.

Yang bikin ngakak itu, "nggak ngerti gunanya acara kumpul-kumpul macem reuni".  WOW. Tapi emang iya sih. Palingan juga ikutan ngumpul karna ada Doi. Hahaha. Dan mereka itu butuh me time. Kalau lagi pengen sendiri ya, bakalan beneran menyendiri, bila perlu pergi ke Goa Hira biar nggak di ganggu. Hehe

Ini yang saya banget,
1. Suka nongkrong di tempat rame tapi sendirian. Kadang sih nggak nongkrong juga sih, bisa duduk, bisa berdiri, yah enaknya aja. Kalau nongkrong terus kan capek /Gaje/. Tapi beneran nih, ngeliat orang rame yang mondar mandir itu asik lho...

2. Kalo lagi badmood, bisa ngehindarin ketemu orang cuma biar nggak nyapa. Hahahaha.

3. Dan aku nggak pernah paham dengan maksud introvert ataupun ektrovert sampai aku memutuskan menulis artiket di sini. Ah, palingan juga besok udah lupa itu apaan. hehe (BTw, itu kata 'dan' di awal ketulis karna lagi dengerin lagunya Sheila on 7) :D

Yah, sudah, segitu aja dulu yah...
Kalau mau banyak, baca refrensi ane aje di Hipwee. ;)
Selamat Pagi... ^^

Jumat, 03 Juli 2015

Puisi: Aku Takut Membencimu!

Bagaimana aku datang,
pada mata teduh bak pematang
di terang bulan yang benderang?
Bagaimana aku datang,
di hari jiwaku berselayang pandang?
Sungguh, bukan aku yang meradang.

Duhai aku, dan hatiku...
Bagaimana bisa rasa aku bagai sembilu?
membaur berdebur apa daya bisaku.
Memandang peluh wajah yang mengharu,
AKU TAKUT MEMBENCIMU!

Oh jika, dan hanya jika...!
Aku datang dengan perasaan berbeda.
Tidak lagi suka,
atau riang, apalagi gembira.
Bagaimana jika...
Aku merindukan dirimu yang lama?

Sempatkah sempat, duhai pujangga?
Membalikkan ribuan rasa yang merintik
membalikkan luka dari bara berkeluarga
Bagaimana jika nanti aku ditelisik,
memiliki rindu yang membuatku membencimu?


3 Juli 2015