Jumat, 06 Agustus 2010
Rabu, 04 Agustus 2010
samar
Hitam putih cahaya iman
Cinta kasih sahabat
sinari semut kecil berbaris,
cium kejujuran matahari ,
harum anugerah lebah ,
ikhlasan coklat
tak semunafik wajah
entah pilihan,
atau harapan
surga hati permata jiwa
ah.... ku tak yakin!
bagai beruang di selimut hari.
Untukmu sahabatku
Ku mulai rasakan kebahagianku sirna perlahan,
Tak ada lagi deraian air mataku yang terjatuh didepan kalian
Tak ada lagi yang pernah hibur diriku
Tak ada lagi yang membentakku, membantuku saat ku salah
Aku tau...
Pertemanan kita tak lebih dari revolusi bumi
Tapi entah mengapa
Aku merasa tak ada lagi orang yang yang cerahi hatiku
Aku tak tau
Apa yang kalian pikirkan akan aku
Mungkin,
Untuk kalian, aku hanyalah debu ,
Hanya sesuatu yang terlupakan
Tapi, bagiku, kalian
Segalanya bagi kehidupan
Menetes air mataku saat ku tulis ini untukmu
Sahabatku...!
Untuk apa?
Angan yang indah sirna oleh mataku
Hatik jadi bisu
Kata harapan ku coba samarkan
Tak bisa aku terima
Tak bisa aku pangku
Segala rasa ak indah, berhambur penuhi otakku
Apa guna yang kurangkai slama ini?
Apa guna aku berfikir slama ini?
Apa guna rasa yang hanyutkan ibaku?
Semua sia sia untuk selamanya
Mengapa?
Mengapa, tak ada satupun mata untukku
Mengapa tak ada rangkaian sayang untukku
Apa aku tak patut dapatkan itu?
Apa salahku?
Tolong...
Terangkanlah...! hatiku yang biru.
Terpendam
Namun kau tak kunjung mengerti
Apa terasa di jiwa
Jauh...
Bahkan tak tergapai jari lemahku
Kau tampak setitik hitam di ujung pandang
Ku ingin jumpa kau
ku ingin kau lantunkan namaku
Untuk sekejap hati mendengar
Dan jangan....
Jangan kau jejaki jalan itu
Jalan berujung kebiruan
Dan Tetaplah menjaga rasa ini
Meski pinggir jiwa tak bersenyum menyetujui
Tegamu
Tersiram pedih bunga hati,
Deraian putih awali hitam hariku,
Tak mampu tudungi pelupuk cinta,
Semua terlontar kasar tak tertahan
Gaduh yang ku buang,
Kembali temani jiwa tak tenang
Jiwa tak mengerti,
Apa atri selimuthitam ini,
Perasaan mereka bagai besi dingin,
Tak berapi, tak berangin,
Tak tersentuh setitik sesal,
Tak terbayang,
Seberapa cinta terhapus kasar dari hati,
Tak ku sangka,
Sekeras inikah hatimu?
Tak sama indah
Sampai kurasa, tak lagi ku dapat pikul
Tapi...
Kebersamaan kita, bengkitkan semangatku
Kadangkala...
Ku fikir...
Benarkah kekeluargaan itu kebersamaan?
Benarkah kebersamaan itu kekeluargaan?
Ku bingung dengan keduanya
Hati berbisik
Mengatakan hangatnya kebersamaan kita bukanlah hangatnya keluarga
Yang saling peduli
Denganku, dengan guru atau yang lain
Ternyata kebersamaan tak selalu untuk kekeluargaan
Tak peduli
Ku tak pernah pahami rasa apa dihati
Bahagia selalu menyapa
Sungguh...
Ku tak tau isi kabuku
Hatiku seakan harapkan persahabatan
Tapi...
Fikirku Tak menentu
Mungkinkah ini cinta?
Jika memang ini hancurkan segalanya
Mungkin ku kan relakan cinta itu pergi
Karena ku tau...
Dari bisikan hati kecilku
Ku hanya sebuah titik kabur dalam buku hidupmu
Aku tak berarti apapun bagimu
Tapi...untukku, kau begitu berharga
Kau semangati hidupku,
Kau cerahi hidup dengan segala yang terbaik darimu
Untuk selamanya...
Apapun yang terjadi
Kau tetap sahabat bagiku
Tak indah hidupku
Sunyi, sepi dan penuh air mata
Disini...
Ku tak pernah dapatkan kebahagiaan
Ketidakadilan yang selalu terasa
Ingin ku ungkapkan semua
Sayang...aku tak kuasa
Ditempat ku tertawa lalu
Kini tak hadiri hidupku
Kini tak ada beda
Segalanya penuh air mata
Sungguh...
Ku ingin, bibirku terbuka
Menghembus bahagia
Walau hanya sedetik terasa
Sisi lainmu
Sungguh tak ku mengerti,
Kau berubah secepat kilat menyambar,
Ingat ku, kau bukanlah ini,
Kau tak pernah begini,
Kini kau begitu dingin,
Tak perduli ku,
Kau lepas beban yang dulu kita pikul bersama,
Kau tak inginkan lagi putihnya kebersamaan ,
Yang selama ini masih ku angan,
Kini kau jauh...
Jauh dari yang ku pelajari,
Tak ada lagi senyum indah nan manis itu,
Tak ada lagi kata semangat untukku darimu,
Tak ada lagi tinta dan pena,
Kini kita bagai matahari dan bulan,
Ku ingin kau tetap menjadi senja,
Yang mengantarkan hari pada tidur lelapnya.
Langganan:
Postingan (Atom)